Muhammad Al Fatih : The Conqueror (Bagian Keempat)

 Ayah Ideologis Lebih Penting Daripada Ayah Biologis

Muhammad Al Fatih

sumber : wikipedia.com
 

     Mehmed II, seorang anak yang ditakdirkan untuk menjadi sebaik - baik panglima penakluk Konstantinopel dan membuktikan bisyarah  Rasulullah Saw. lahir di Edirne pada tanggal 29 Maret 1432. Pada saat penantian kelahiran anaknya, Murad II menenangkan diri dengan membaca Al - Quran dan lahirlah anaknya saat bacaannya sampai pada surat Al - Fath, dimana surat yang berisi janji Allah akan kemenangan kaum muslimin. Dan sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw., maka diberilah nama Mehmed. Murad II sebagaimana sultan - sultan sebelumnya, mendidik anaknya sejak usia dini dan mempersiapkan mereka menjadi ghazi terbaik untuk mewujudkan impian Utsman dan bisyarah  Rasulullah saw. yaitu penaklukan Konstantinopel.

    Sejak awal, Mehmed kecil senantiasa dikelingi oleh ulama - ulama terbaik untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan Al - Quran, tsaqafah Islam dan juga ilmu fiqh, maupun ilmu lainnya seperti astronomi , bahasa, matematika, kimia, fisika, dan teknik perang dan militer. Sultan Murad pun memerintahkan syaikh pengajar terbaik di masanya untuk membentuk mental dan kepribadian Mehmed II menjadi seorang kesatria. Tugas ini diserahkan kepada Syaikh Ahmad Al - Kurani dan Syaikh Aaq Syamsudin.

    Syaikh Ahmad Al - Kurani bukanlah ulama sembarangan. Imam Suyuthi menulis, " Sesungguhnya ia adalah seorang yang berilmu lagi faqih. Para ulama pada zamannya telah menjadi saksi atas kelebihan serta kekonsistenan beliau. dan ia melampaui rekan rekannya dalam ilmu - ilmu ma'qul adb manqul. mahir dalam nahwu, ma'ani dan bayan ,serta fiqh dan masyhur dengan berbagai keutamaan". Ketika Syaikh Ahmad Al - Kurani bertemu dengan Mehmed kecil, beliau berkata, " Ayahmu telah mengutusku untuk mendidikmu dan memukulmu bila engkau tidak menuruti perintahku". Mendengar hal tersebut, Mehmed sontak tertawa karena menganggap itu hanya gertakan saja. Kemudian Syaikh Ahmad - Al Kurani memukulkan tongkatnya dengan amat keras hingga membuat Mehmed kecil jera dan segan dengan gurunya itu. Namun, atas pukulan itu, Mehmed telah menghafalkan Al Quran pada usia 8 tahun. Ia juga mulai mempelajari etika belajar dari Syaikh Al Kurani yang tidak menganggapnya berbeda dari anak anak lainnya.

    Sedangkan Syaikh Aaq Syamsudin adalah ulama yang nasabnya terhubung dengan Abu Bakar Ash - Shidiq dan seorang polymath -- seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas pada satu ilmu saja -- . Beliau juga menjadi hafidz pada usia 7 tahun dan sangat ahli dalam biologi, kedokteran, astronomi dan pengobatan herbal. Syaikh Aaq Syamsudin ditugaskan untuk membentuk mental Mehmed kecil dengan sering mengajari berbagai ilmunya dan senantiasa mengingatkan kemuliaan ahlu bisyarah  yang akan membebaskan Konstantinopel. Aaq Syamsudin senantiasa menceeritakan perjuangan Rasulullah dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam dan menanamkan kepribadian yang baik melalui cerita sirah nabawiyah. Beliau juga menceritakan kepahlawanan dan keksatriaan para sahabat dan penakluk awal. Syaikh senantiasa meyakinkan bahwa dirinyalah penakluk yang dijanjikan itu.

    Dengan keyakinan yang ditanamkan sejak kecil, tak heran jika pada usia kurang dari 17 tahun Mehmed dapat menguasai  bahasa Arab, Turki, Persia, Prancis, Yunani, Serbia, Hebrew dan Latin. Ia juga menguasai  dalam ilmu sejarah dan geografi, syair, dan puisi, seni, serta ilmu teknik terapan.Keahliannya dalam perang pun tidak diragukan lagi, bahkan sejak kecil sebagian besar waktunya sudah berada diatas kuda.

    Terlihat jelas kehebatan Mehmed atas bentukan dari dua gurunya itu. Mehmed juga menyadari bahwa untuk menjadi ahlu bisyarah, ia harus mendekatkan diri kepada Allah Swt. Oleh karena itu, Mehmed selalu menyibukkan diri dengan bertaqarrub kepada Allah Swt. Dia adalah satu - satunya panglima yang tidak pernah masbuq dalam sholatnya dan selalu berjamaah di masjid.Bahkan, tidak sekalipun  Mehmed pernah melewatkan shalat malam dan rawatib sejak ia baligh hingga meninggal. 

Masya Allah.

 

 

Komentar